adab sebelum ilmu ilmu sebelum amal

Begitubanyak poin-poin penting di dalam kitab kecil tersebut tentang adab-adab menuntut ilmu, tapi di sini saya tuliskan beberapa saja yang saya anggap lebih prioritas daripada yang lain (bukan berarti yang lain tidak penting). Poin-poin tersebut saya coba jelaskan dan beberapa saya rangkum jadi satu poin dengan bahasa saya sendiri yang saya SambutanDekan Fakultas Adab & Ilmu Budaya Bunga Rampai Dinamika Kajian Ilmu-Ilmu Adab dan Budaya 2 dan Ilmu Budaya. Dua kali beliau menjabat sebagai PD 1, dua kali pula beliau menjabat Dekan, sekali Pjs/Plh dan sekali definitive. Pak Syakir (demikian panggilan akrabnya) telah mengukir sejumlah jejak dan kenangan positif di Fakultas Adab. Orangkalau langsung belajar ilmu tanpa belajar adab, itu ilmu hanya menambah kesombongan, nambah ujub takabur, dan riya. Ilmu itu pun tidak akan manfaat untuk dirinya dan orang lain. Tapi kalau ilmu pakai ada Pentingnya belajar adab sebelum mencari ilmu . Posted On: Mei 12, 2021; Doaadalah untuk menguatkan dan meluruskan usaha untuk sentiasa berada di atas keberkatan. 4. Doa penerang hati (Berserta Rumi) Maksudnya: Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkan tugasku, lepaskan simpulan dari lidahku (tidak halang percakapan/gagap), supaya mereka faham perkataanku. Adabsebelum ilmu, ilmu sebelum amal Minggu, 04 Februari 2018 Kejadian di awal bulan ini yang menimpa pak guru Budi sangatlah tragis, dimana ada seorang murid yang tega menghakimi gurunya sendiri hanya lantaran karena kesal pipinya dicoret dengan cat air, hingga guru tersebut meregang nyawa. Perhatikanlah Rasulullah صلى الله عليه و سلم memulai doa ini dengan meminta ilmu yang bermanfaat sebelum meminta yang selainnya. Ini mengandung isyarat bahwa ilmu yang bermanfaat lebih diutamakan dan lebih didahulukan. Dengan ilmu yang bermanfaat tersebut, seseorang akan mampu membedakan amalan, yang saleh dan yang jelek. TranslatePDF. FILSAFAT PENDIDIKAN SEBELUM ABAD 20 (Citra Chairani Amalia, Dela Suliarti, Eka Dwi Anggraini) Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Dr.Muhammad Kristiawan,M.Pd Universitas Bengkulu citrachairani2@ Bagaimana Latar Belakang Munculnya Filsafat ? Pada dasarnya pemikiran filsafat adalah pengetahuan, hal ini mengenai pengetahuan OlehMohammad Thoriq Miftahuddin Sangat disayangkan dewasa ini, seiring kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), seharusnya mampu mendorong penuntut ilmu menuju pada kebaikan-kebaikan. Namun faktanya justru menyeret dan merampas jati diri akhlak kepada suatu hal buruk. Seorang murid atau siswa mulai luntur SyaikhSholeh Al Ushaimi berkata : “ Sesungguhnya kebanyakan penuntut ilmu pada zaman ini terhalang dari ilmu adalah dengan sebab menyia-nyiakan adab. Dan beliau juga mengatakan : “ Ilmu hanyalah layak untuk orang yang beradab dengan adab ilmu pada dirinya, saat pelajaran, bersama guru dan sahabatnya “. ( Khulashoh Ta’dhimul iImi : 30 ). Karenaurutan yang benar adalah adab sebelum ilmu. Jika urutan dilanggar maka hasilnya akan sia-sia. Diantara orang yang sibuk menuntut ilmu namun lupa akan belajar adab dan akhlak contohnya adalah ia mudah mengghibah gurunya, tidak hormat pada guru, atau terlambat ketika menghadiri majelis ilmu. Padahal apabila ia mendahulukan adab yang baik . Ilustrasi Adab. Foto Islam, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah. Begitu penting ilmu dalam Islam hingga Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Walaupun begitu, ada hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu sebelum ilmu yakni berasal dari bahasa Arab yang artinya kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Sedangkan adab menurut Rasulullah SAW adalah pendidikan tentang kebaikan yang merupakan bagian dari buku Adab dan Doa Sehari-Hari untuk Muslim Sejati karya Thoriq Aziz Jayana, kedudukan adab dalam Islam lebih tinggi dari ilmu. Sejumlah ulama pun menyampaikan pendapat ulama Imam Malik mengatakan bahwa, "Pelajarilah adab terlebih dahulu sebelum mempelajari suatu ilmu.” Sebagaimana yang dilakukan Imam Ibnu Mubarak, ia mempelajari adab selama 30 tahun, setelah itu baru mempelajari ilmu selama 20 ulama Syaikh Sholeh Al Ushoimi menuturkan bahwa, “Dengan mempelajari adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit memperhatikan adab, maka ilmu akan menjadi sia-sia.” Dapat disimpulkan dari penuturan kedua ulama tersebut, penting untuk mempelajari adab sebelum ilmu. Sebab, orang yang tak beradab hidupnya tidak diberkahi Allah dan ilmunya juga tidak adab yang bisa diketahui umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari seperti adab terhadap kedua orang tua, guru, dan masyarakat. Simak penjelasan selengkapnya di bawah Adab. Foto dalam Kehidupan Sehari-hariMerangkum dari buku Pendidikan Agama Islam Akidah dan Akhlak kelas X karya Thoyib Sah Saputra dan Wahyudin, berikut adab pergaulan sehari-hari sesuai ajaran Contoh Adab terhadap Kedua Orang TuaTidak durhaka kepada kedua orang tuaPatuh kepada kedua orang tua dan selalu mendoakannyaBersyukur sudah diberi keluarga yang utuhMengucapkan kata-kata yang muliaTidak mengucap kata kasar seperti berdecak “ah”Meneruskan berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya sudah meninggal2. Contoh Adab terhadap GuruMengamalkan ilmu yang telah diajarkanMenjaga perilaku ketika di sekolahTidak berkata kasar kepada guru3. Contoh Adab dalam BermasyarakatMengucapkan salam ketika bertemuMemenuhi undangan, jika diundang dalam sebuah acaraMemberikan nasihat ketika dimintaMenjenguk tetangga ketika sakitMengantarkan jenazah tetangga sampai ke kuburLemah lembut dan kasih sayangTidak ikut campur terhadap urusan orang lain4. Contoh Adab Pergaulan Sesama TemanMencintai teman karena AllahSaling menyapa atau menegur ketika bertemuMengajak teman ke arah kebaikanMemberi senyuman ketika bertemuMenolong teman yang kesusahanBersama-sama berjuang bersama mencari ilmu JAKARTA - Pada masa generasi Thabi'in, ada seorang ulama cendekiawan yang sangat luas dan mendalam keilmuannya. Sampai-sampai oleh para ulama lainnya digelari "Rabi'atur Ra'yi" Logika musim semi. Gelar untuk menggambarkan betapa jenius ulama ini. Praktis, Rabi'atur Ra'yi menjadi tujuan uatama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki. Ada momen terpenting, menurut saya, yang perlu kita underline, ketika Malik bin Anas akan belajar kepada Rabi'atur Ra'yi, yaitu nasehat sang Bunda. "Nak, camkan pesan ibu, pelajarilah olehmu adab Rabi'atur Ra'yi sebelum kau pelajari ilmunya." Sebuah pesan singkat, namun sangat mendalam maknanya. Sejatinya, ada pesan lain yang tersirat dari pesan Bundanya Malik bin Anas, yaitu "Nak, jika kau tak temui adab pada diri Rabi'atur Ra'yi, maka kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya." Mengapa? Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun jika tiada adab di dalamnya. Terlebih bila ilmu setitik nila, plus kehilangan adab. Allah telah menyindir keras para ahli ilmu Rabi Bani Israil yang tiada adab dalam dirinya dengan perumpamaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab dipunggungnya QS. 62 5. Keledai tentulah tiada paham untuk apa kitab-kitab yang dipikulnya itu. Demikianlah, Allah menyindir keras para ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya, namun tiada adab tertanam dalam diri dan lisannya. Sia-sia ilmunya. Bahkan, malah menyeretnya pada jika para ulama sepakat, "Kada al-adab qabla al-'ilm" Posisi adab itu sebelum ilmu. Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, "Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul 'ilm 'isyrina sanah" Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya. Jernih sekali nasehat Imam Asy-Syafi'i kepada Imam Abu Abdish Shamad, gurunya anak-anak Khalifah Harun Al-Rasyid, "Ketahuilah, yang pertama kali harus kamu lakukan dalam mendidik anak-anak khalifah adalah memperbaiki dirimu sendiri. Karena, sejatinya paradigma mereka terikat oleh paradigma dirimu. Apa yang mereka pandang baik, adalah apa-apa yang kau lakukan. Dan, apa yang mereka pandang buruk, adalah apa-apa yang kau tinggalkan." Maka, sudahkah konsep adab sebelum ilmu diterapkan di sekolah-sekolah kita? Sudahkah kita belajar adab sebelum ilmu? Dan, sudahkah kita belajar ilmu kepada guru yang memiliki adab mulia? Oleh Muhammad Syafi'ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Sahabat Remaja Indonesia BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Oleh Izzuddin Ar Rifqiy Mahasiswa di Jakarta “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh,” Al-A’raaf 7199. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” An-Nahl 16125. “Dan sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang Agung,” Al-Qalam, 684. BERAPA tahun Allah menyiapkan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi? Ya, 40 tahun. Yang paling menonjol dalam diri beliau selama 40 tahun tersebut adalah akhlaknya. Sebutan Al-Amin sebagai buktinya. Tapi selama kurun waktu tersebut, Rasulullah bahkan tidak bisa baca tulis. Tapi hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan beliau. Siapa yang tak kenal imam Malik, salah satu satu dari ulama 4 madzhab yang pertama membukukan hadits dalam kitabnya al-Muwatta’. Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.” Lihatlah betapa indahnya nasehat sang ibunda kepada anaknya. Bukannya menuntut untuk mencari nilai setinggi-tingginya. Namun malah menjadikan akhlak yang menjadi prioritas utama. Akhlak saat ini menjadi komoditas yang mahal. Karena manusia yang berakhlak mulia pasti akan dihargai dimanapun ia berada. Bukankah kita ingat hadist Nabi, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya,” HR Bukhari 5569. Orang yang baik akhlaknya adalah lentera yang menyala benderang. Dia hangat dan menentramkan, orang-orang suka berada di dekatnya. Karena dia pasti memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan ilmu itu adalah itu adalah gagang dari lenteranya. Kalau keduanya saling bersinergi, lentera bisa kesana kemari. Lentera dengan dengan gagang punya daya jelajah yang lebih tinggi dengan kegunaan yang lebih banyak. Bisa menyalakan sumber sumber cahaya lainnya. Lilin diseberang sana, sebelumnya tanpa cahaya. Berkat lentera yang punya mobilitas tinggi kemudian berbagi apinya akhirnya lilin bisa menyala dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Kemudian lentera bisa melanjutkan perjalannya untuk berbagi. Orang yang berilmu tapi tidak berakhlak baik berarti cuma lentera dengan gagang yang menyala kecil atau sama sekali tidak menyala. Hanya cukup untuk menerangi dirinya sendiri. Saking kecilnya nyala apinya bila dibuka tutupnya, matilah apinya. Tak dapat ia bagikan. Dan orang-orang tidak menerima karena ia tidak memberi manfaat. Hanya berguna bagi dirinya sendiri. Sedangkan tanpa ilmu dan akhlak. Bagai orang berjalan tanpa lentera, hanya menabrak kesana kemari. Yang ada malah kemungkinan daya rusaknya lebih tinggi. Orang-orang berharap ia cukup diam saja ditempatnya. Maka kita jangan tertipu oleh idiom-idiom yang beredar saat ini seperti “Bicara kasar tapi jujur lebih baik dari pada santun bicara tapi mental bejat.” Keduanya tidak benar. Siapa yang menjamin yang berbicara kasar benar-benar jujur? Lalu yang kedua adalah sifat munafik yang harus dijauhi kita semua. Ada pilihan yang lebih baik yaitu santun nan jujur. Saya pernah membaca di sebuah buku tentang pernyataan seorang bule terhadap pentingnya akhlak. Aku lebih khawatir apabila anakku tidak bisa mengantri daripada ia sekadar tak bisa berhitung. Karena untuk mengajarinya mengantri butuh waktu yang lama dan akan lebih berguna baginya kelak di masa depan. Jika sudah demikian, apa yang bisa kita banggakan sebagai warga dari negara muslim terbesar dunia? Pun pula untuk teman-teman di luar sana, ketahuilah bahwa para Ulama mempelajari akhlak lebih lama sebelum mempelajari ilmu. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk adab sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari. Karena perbedaan bukanlah berarti permusuhan. Seperti kata Imam Syafi’i pada sahabatnya Abu Musa “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara bersahabat meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” Siyar A’lamin Nubala’, 10 16. Wallahu a’lam. [] Oleh Ary senpai ini sebagai sarana mempermudah pemahaman aja ya gaes, jangan galau Pada suatu malam ustad habib sedang berdiskusi dengan Bang Jack alias guru dari Ustad Habib itu sendiri. Kira-kira kayak gini. Ustad habib Guru, saya ingin bertanya nih… Bang Jack Bertanya apa muridku? Ustad Habib menurut guru, apa yang menjadi solusi degradasi moral saat ini, pada masa sekarang ini kan keilmuan maju, banyak sekali rumah tahfidz bahkan seperti industry rumah tahfidz, terus sekolah-sekolah sudah banyak. Tapi kok kemerosotan moral semakin tajam, ini gimana solusinya guru? Apakah harus kembali lagi ke jaman rasul atau apa? Bang Jack Kalau kembali ke jaman rasul, emang kamu punya mesin waktu? Lagian ntar kamunya yang kaget kalau melihat hokum yang kamu sendiri masih mumet, hehehehe Ustad Habib apa solusinya guru? Bang Jack kuncinya ini anak muda, iman sebelum adab, adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal. Ustad Habib penjelasannya bagaimana? Bang jack Iman sebelum adab adalah hal dimana diri kita ini harus benar-benar mengerti sejatinnya manusia dibumi ini sebagai siapa? Sebagai mahluk atau cuman pantes-pantes? Tentunya jika kamu ngaku sebagai mahluk yang diberikan banyak kelebihan, kamu harus tahu juga bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaNya. Nah dari situ kita akan tahu tentang adab berhubungan dengan Allah sebagai Tuhan kita, kemdian berhubungan dengan manusia sebagai sarana beribadah secara horizontal anak muda. Ustad Habib Kemudian adab sebelum ilmu itu bagaimana? Bang Jack Adab sebelum ilmu itu diartikan sebagai diri manusia harus memiliki akhlak yang bagus sebelum menerima banyak ilmu yang ada, misalnya nih mas habib ingin menjadi penghafal quran, tentunya sebelum memilih rumah tahfidz mana yang manu dituju hal pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana kita memiliki akhlak yang mulia. Misalnya mas habib tidak mengedepankan akhlak atau adab, bisa jadi nantinya mas habib kalau udah jadi penghafal malah digunakan untuk pamer atau untuk mencari ketenaran dari hafalan mas habib itu sendiri. Ustad habib wah wah, iya iya, jaman sekarang banyak banget rumah tahfidz tapi dampaknya belum terasa di masyarakat. Bang jack hahaha saya gak ngebahas kayak gitu lho mas, oh ya yang terakhir adalah ilmu sebelum amal. Jadi sebelum kita beramal kita harus berilmu dulu, kita harus ngerti ini amalan atau perbuatan sesuai dengan anjuranNya atau tidak. Kebanyakan kita hanya menang semangat, misalnya mas habib sangat bersemangat belajar agama, akan tetapi belum tahu ilmu agama secara mendalam, mas habib kemudian melakuka kejahatan atas nama agama, nah itulah yang harus menjadi PR yaitu ilmu sebelum amal. Istilahnya orang jawa adalah kabeh ilmu diamalke lan kabeh amal ana ilmune. Ustad habib wah wah, iya iya, terima kasih guru. Hormat padamu y Bang jack ojo alay mas, biasa wae, saya masih banyak kekurangan. [Graha Sedekah; dengan semangat baru memulai perjalanan sejak tahun 2008. Demi menggerakkan generasi qur’ani Indonesia melalui cita-cita visioner mengenai pendidikan yang islami, akan terus berperan aktif dengan semangat tanpa henti untuk fokus mengelola potensi umat dalam rangka membangun peradaban menuju ridlo ilahi] Adab sebelum ilmuilmu sebelum amalSebuah ungkapan yang sering didengar. Tapi kadang sesuatu yang sering didengar malah sering terabaikan yang sering tercampur dengan kalimat “ah iya, udah tau. udah paham lah”Tapi para ulama’ terdahulu sangat menomorsatukan adab dalam hal menuntut ilmu. Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.” Adab pun bisa menjadi penentu berkah atau tidaknya sebuah ilmu. Pernah suatu ketika, dalam sebuah kisah, seorang anak belajar pada seorang guru. Setibanya di rumah, orang tuanya mencaci guru anaknya tersebut. Kurang ini lah, kurang itu lah. Namun tanpa disadari dengan celaan dari orang tuanya tersebut, ilmu yang disampaikan oleh guru tadi tidak dapat dengan sempurna diterima oleh anaknya dikarenakan terhalang oleh celaan tersebut menggambarkan betapa pentingnya mengutamakan adab dalam konteks menuntut ilmu. Ilmu yang disampaikan dapat terhalang karena celaan orang tua, bukan oleh murid itu sendiri. Lalu bagaimana jadinya jika celaan tersebut datang langsung dari murid? Naudzubillah min bagaimana jika kita mendapati seorang dosen yang maaf kurang jelas dalam menyampaikan, sudah lanjut usia, dan lain-lain yang mudah membuat mulut berbicara yang tidak baik. Ternyata jika kita lihat ulama’ terdahulu ketika hendak menuntut ilmu, mereka memerhatikan siapa guru yang akan didatangi terlebih dahulu. Bagaimana amalan wajib dan sunnah kesehariannya, kebiasaan sehari-harinya, dan tentu adabnya. Jadi guru yang dipilih adalah yang paling sedikit bagaimana adab seorang penuntut ilmu sebaiknya? Maka yang patut menjadi teladan terbaik adalah Rasulullah saw. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Pun kita hidup sampai mati adalah seorang penuntut ilmu. Menuntut ilmu bukan melulu tentang duduk di kelas, mendengarkan guru berbicara, dan orang merupakan guru dan murid bagi setiap orang yang lain. Dalam bersosial media pun kita juga sebagai penuntut ilmu. Maka, di permulaan kali ini saya memohon keberkahan dalam rangka menuntut ilmu, mohon ingatkan apabila berada di jalan yang jauh dari yang Allahu alam bish shawab. Salah satu adab yang diajarkan dalam Islam adalah adab menuntut ilmu. Ya, adab dalam menuntut ilmau sangat diperlukan. Bahkan Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada orang Quraisy,تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Berikut ini adalah adab dalam menuntut ilmu yang perlu diketahui1. Niat karena AllahHal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menuntut ilmu adalah membenarkan niat. Niatkan semua ilmu yang akan kamu pelajari hanya karena Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Bayyinah ayat 5, وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِPadahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Rasulallah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” HR. Ahmad2. Selalu berdoaDalam menuntut ilmu hendaknya kita selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam menyerap ilmu dan Azza wa Jalla berfirmanوَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًاdan katakanlah ”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20114]Baca jugaAdab menghadiri pernikahan dalam IslamAdab i’tikaf di bulan RamadhanAdab berkurban dalam IslamAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdapun doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul dalam menuntut ilmu adalah,اَللَّهُمَّ انْفًًًًًًََعْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماًYa Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]3. Selalu bersungguh-sungguhKetika menuntut ilmu hendaknya kita bersungguh-sungguh dan selalu antusias untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Seolah-olah tidak pernah kenyang dengan ilmu yang didapatkan, hendaknya kita selalu berkeinginan untuk menambah ilmu shallallahu alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang yaitu 1 orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan 2 orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” HR. Al-Baihaqi4. Menjauhi maksiatUntuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, maka jauhkanlah diri dari berbagai macam maksiat. Maksiat akan membuat otak menjadi sulit untuk berkonsentrasi sehingga ilmu sangat sulit أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ »Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat maksiat, maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya yang artinya, Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”Baca jugaAdab bercandaAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdab memotong rambut dalam IslamAdab menyamnpaikan nasihan dalam IslamAdab puasa Ramadhan5. Selalu rendah hatiBanyak sekali orang berilmu yang justru menjadi sombong hanya karena merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Jika ingin mendapatkan ilmu yang baik dan bermanfaat, maka tetaplah menjadi pribadi yang rendah Mujahid mengatakan,لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ“Dua orang yang tidak belajar ilmu orang pemalu dan orang yang sombong” HR. Bukhari secara muallaq6. Memperhatikan penjelasanJika ingin mendapatkan ilmu dengan mudah, maka konsentrasilah ketika guru atau ustadz menjelaskan. Fokuslah untuk menyerap ilmu yang disampaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,“… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” QS. Az-Zumar 17-187. Diam menyimakSalah satu adab dalam menuntut ilmu yang banyak ditinggalkan adalah diam ketika guru atau ustadz menjelaskan. Jangan berbicara atau bahkan mengobrol hal yang sama sekali tidak penting bahkan tidak berhubungan dengan pelajaran yang disampaikan. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al A’raf ayat 204,وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَDan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat jugaFungsi Iman Kepada Qada dan QadarManfaat Membaca Buku Menurut IslamNasib Al Qur’an di Hari KiamatMengenang Wafatnya Pedang Allah Khalid bin WalidHukum Membatalkan Perjanjian Dalam Islam8. MenghafalSetelah berhasil memahami ilmu yang disampaikan, maka hendaknya hafal lah ilmu tersebut agar lebih mudah diingat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” HR. At-Tirmidzi.9. MengamalkanAkan percuma setiap ilmu yang didapatkan jika tidak diamalkan. Sudah seharusnya kita mengamalkanilmu yang kita dapatkan agar mendapatkan keberkahan dari Allah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya tidak mengamalkan ilmunya adalah seperti lampu lilin yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” HR Ath-Thabrani10. MendakwahkanTidak ada ilmu yang bermanfaat jika tidak dibagikan kepada orang lain. Maka sebarkanlah ilmu tersebut kepada mereka yang belum mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” QS. At-Tahriim 6.Itulah 10 adab menuntut ilmu yang perlu diketahui. Semoga setiap ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan menjadi berkah bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Aamiin. Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia mempunyai kemampuan untuk selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Sebab manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, yang dilengkapi akal, fikiran, dan nafsu yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Dalam pandangan ilmu sosiologi, manusia sebagai makhluk sosial memiliki makna sebuah konsep ideologi, bahwa masyarakat atau struktur sosial merupakan sebuah organisme yang memiliki kehidupan, maka dalam hal ini, manusia tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bergantung pada makhluk hidup yang lain atau lingkungan. Maka dalam kehidupannya, manusia membutuhkan bekal. Dalam wikipedia, dijelaskan mengenai ilmu. Yaitu usaha sadar sepenuhnya untuk meneliti, menemukan, dan mengembangkan pemahaman manusia dari berbagai unsur kenyataan dalam alam manusia. Pengertian tersebut jelas bahwa dalam hidupnya, bekal pertama yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan untuk hidup bermasyarakat. Sebagaimana contohnya, ketika kita ingin bersosialisasi dengan masyarakat dengan media sholat berjamaah, maka kita harus paham ilmunya tentang sholat berjamaah. Kemudian ketika kita ingin membeli sesuatu di pasar, kita harus paham ilmunya berhitung. Maka, keilmuan dalam setiap lini kehidupan sangat penting dimiliki, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan jika tanpa ilmu. Kewajiban memperoleh keilmuan juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya "Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap kaum muslimin dan muslimat" HR. Ibnu Majah. Terkini Lokasi halaman Beranda adab Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu By at 1/04/2021 Dari gambar ini kita belajar bahwa adab lebih penting daripada ketahui, bahwa perbedaan manusia dengan binatang adalah akal atau ilmu. Tetapi tingkatan yang lebih tinggi dari ilmu yakni adab atau akhlak. Karena seberapapun banyaknya ilmu tanpa disertai adab yang baik akan bisa menjadikan manusia pun berperilaku seperti binatangre keserakahan, tamak, kejam dan perilaku tercela lainnyaImam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”Kenapa para ulama mendahulukan mempelajari adab?Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”Sebegitu pentingkah mempelajari adab, baru ilmu kemudian???Nah, misalnya di kehidupan nyata pun mungkin dari kita pernahkah menjumpai seorang yang sangat pintar, tapi sombong. Cerdas, tapi tak berperilaku baik. Pandai, tapi adab terhadap orangtua/gurunya kita pun memandang tidak baik orang seperti itu, karena budi pekertinya yang tidak sinkron dengan mengapa adab diutamakan untuk dipelajari terlebih adab itu?Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan, adab adalah menerapkan “akhlak-akhlak yang mulia”Urgensinya kita harus memiliki adab atau akhlaq yang baik sebelum berilmu. Yakni,Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaأكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا“Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata “hasan shahih”.Jelas dikatakan, sebaik-baik manusia yang paling baik akhlaqnya. Oleh karenanya, mau jadi sebaik-baik manusia?Yaitu dengan memperbaiki akhlaqnya.. Baca Juga Info Penting langganan artikel menerima tulisan, informasi dan berita untuk di posting menerima kritik dan saran, WhatsApp ke +62 0895-0283-8327 0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesAdab Sebelum Ilmu Dan Ilmu Sebelum AmalOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Tidak diragukan lagi bahwa belajar dan menuntut ilmu agama telah dijelaskan keutamaannya dalam nash yang terbilang dalam al-Quran maupun al-Hadist, diantaranya Allah berfirman يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. al-Mujadilah 11. Disebutkan pula dalam hadist bahwa Rasul sallallahu alaihi wa sallam bersabda وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” HR. Abu Dawud Ibnu Majah dari hadis Abu Darda’ radhiyallahu anhu. Seorang penuntut ilmu jika senantiasa menghadirkan keutamaan yang disebutkan dalam dalil-dalil tersebut. Karena sangatlah penting agar ia bisa tetap memberikan suntikan semangat untuk belajar. Dan menuntut ilmu itu memiliki adab-adab yang harus diperhatikan. Ketika seorang pembelajar memegang adab-adab ini, maka dampaknya akan memberikan nilai positif ketika berinteraksi dengan guru dan teman sejawatnya dalam belajar. Ia juga bisa memperingkas jalan dia dalam belajar. Bisa mengetahui mana yang lebih penting dari perkara-perkara penting dalam belajar yang harus diambil terlebih dahulu. Bahkan adab belajar bisa menuntun dia kepada jalan yang akan menjadikannya ahli ilmu yang kokoh dalam keilmuan. Nasehat ulama tentang pentingnya beradab sebelum berilmu Sebagaimana hal tersebut telah dicontohkan oleh para kibar ulama. Sebagian adab-adab belajar bisa didapat dengan membaca buku-buku yang ditulis dalam tema ini, atau juga bisa diambil dengan berinteraksi langsung dengan para ulama. Berikut diantara statement ulama yang menekankan pentingnya beradab dahulu sebelum menuntut ilmu Berkata Ibnu Wahb ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه “Apa yang kami nukilkan dari adabnya Imam Malik jumlahnya lebih banyak daripada apa yang kami pelajari dari ilmunya”. Lihat Siyar al-A’lam al-Nubala juz8 hal113 Kebutuhan seorang penuntut ilmu akan adab sebelum memulai menuntut ilmu adalah perkara yang sangat penting, oleh karenanya begitu banyak wasiat para ulama dalam masalah ini. Salah satu contohnya, wasiat Imam Malik ketika mengarahkan seorang pemuda quroys dalam belajar, beliau mengatakan يا ابن أخي، تعلم الاب قبل أن تتعلم العلم “Wahai putra saudaraku, belajarlah adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. Lihat al-Hilyah oleh Abu Nu’aim juz6 hal330 Yusuf bin Husain juga berkata بالأدب تفهم العلم “Dengan adab anda akan memahami ilmu”. Lihat Iqtidhou al-Ilmi al-Amal oleh al-Khatib al-Baghdady hal170. Begitupula Abu Abdillah al-Balkhy mengatakan أدب العلم أكثر من العلم “Adab berilmu lebih banyak dari ilmu itu sendiri”. Lihat al-Aadabu al-Syariyyah juz3 hal552 Juga lihatlah Imam Laits ibnu Sa’ad ketika beliau mengawasi penuntut ilmu hadist, kemudian beliau melihat ada sesuatu yang kurang pas dalam sikap mereka, kemudian beliau menegur ما هذا؟ أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم “Apa ini? Kebutuhan kalian terhadap sedikit adab itu lebih mendesak daripada kebutuhan kalian pada ilmu yang banyak”. Lihat Syarafu Ashabi al-Hadist oleh al-Khatib al-Baghdady no283. Dari beberapa kutipan di atas, kita kemudian menjadi tahu urgensi mempelajari adab sebelum menuntut ilmu, apalah arti seseorang memiliki ilmu yang banyak dan luas namun tidak beradab, justru dampak negatifnya akan lebih besar daripada dampak positif yang akan dibawa. Adab – adab seorang penuntut ilmu Secara singkat, berikut beberapa adab-adab menuntut ilmu yang perlu untuk diketahui oleh para pembelajar ilmu syari sebagaimana disampaikan menurut syaikh al-Munajjid 1. Kesabaran. Menuntut ilmu adalah termasuk perkara mulia dan tinggi dalam sudut pandang agama, dan perkara yang mulia tidaklah bisa dituai melainkan harus bersusah payah dan berlelah-lelah, dan ini semua butuh kesabaran. 2. Mengikhlaskan amalan. Maksudnya adalah menjadikan upaya menuntut ilmu itu sebagai bentuk mencari keridoan Allah, harus ikhlas, jauh dari riya dan keinginan untuk agar bisa tampil dan merasa tinggi di hadapan orang lain, benar-benar tujuannya untuk mengangkat kebodohan dalam diri dan pada orang lain. 3. Mengamalkan ilmu yang didapat. Ketahuilah, bahwa mengamalkan ilmu itu adalah tanda bahwa ilmu tersebut berbuah, barangsiapa yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya, sejatinya ia telah menyerupai kaum yahudi dalam hal ini. 4. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Wajibnya bagi penuntut ilmu untuk menghiasi dirinya dengan perasaan diawasi oleh Allah muroqobatullah baik dalam keadaan sembunyi maupun terang, berjalan menuju Allah dengan didampingi perasaan takut khouf dan harap roja, selalu memenuhi hati dengan rasa cinta pada Allah ta’ala al-mahabbah. 5. Memanfaatkan waktu dengan baik. Yaitu bersegera memanfaatkan waktu muda dan umur dengan sebaik mungkin untuk menggali ilmu, jangan terlalu banyak ungkapan besok atau menunda-nunda amalan, jangan terlalu banyak harapan namun minim aksi, menit demi menit berlalu, hari, pekan, bulan dan seterusnya, jika tidak dimanfaatkan waktu itu dengan baik maka kita akan merugi. 6. Himbauan untuk tidak sibuk dengan khilaf para ulama. Sekali-kali janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan persilangan pendapat para ulama pada awal mulai belajar, atau menyibukkan dengan perselisihan di tengah manusia secara mutlak, karena hal tersebut akan membingungkan pikiran, juga jangan terlalu membaca terlalu banyak dari banyak sumber, tapi pilihlah kitab-kitab dasar yang sudah diarahkan oleh guru, dibaca dan dikuasai dengan baik sampai mutqin, dengan begitu akan lebih bisa menghemat waktu. 7. Memahami ilmu secara cermat dan itqan menguasai sempurna. Bersemangatlah memahami ilmu secara cermat dan mutqin, tentunya hal tersebut bisa diwujudkan ketika mempelajari ilmu dengan didampingi oleh syaikh atau guru yang berkompeten, dengan menghafal ilmu tersebut, senantiasa diulang-ulang secara periodik agar tidak mudah lupa dan lekang oleh waktu. 8. Menelaah kitab-kitab. Setelah kita menghafal bentuk ringkas dari setiap disiplin ilmu secara mutqin dan cermat, memahami makna dan syarahnya dengan baik dengan dibimbing oleh guru, barulah kita bisa berpindah kepada rujukan yang pembahasannya lebih luas, dengan menelaah secara kontinyu, memberikan komentar dan catatan pada perkara yang dianggap penting dan berfaidah, atau masalah-masalah yang detail, memberikan jawaban dan solusi dari masalah tersebut. 9. Memilih teman yang baik. Berupaya untuk memilih teman yang baik dalam menuntut ilmu, yang menyibukkan dirinya dengan ilmu dan bukan dunia, dia bisa membantumu untuk mewujudkan mimpimu, menolongmu untuk mengumpulkan faidah-faidah ilmiyah dalam belajar, menyemangatimu ketika engkau futur, meringankan bebanmu, yaitu teman yang bersemangat belajar, memiliki akhlak dan agama yang baik dan senantiasa tidak bosan memberikan nasehat. 10. Beradab di hadapan para guru. Ilmu itu tidak bisa diambil langsung begitu saja dari buku, namun wajib engkau ambil dengan arahan dan pengajaran dari guru yang berkompeten, agar engkau tidak terpeleset dalam kesalahan dan kekeliruan pemahaman, karena anda butuh dengan guru yang membimbing anda, maka wajib bagi anda untuk menjaga adab di hadapannya, dengan demikianlah anda akan sukses dan beruntung dalam belajar, mendapatkan ilmu yang mumpuni dan diberi taufik, muliakan guru anda, hormati dia dan bersikap lemah lembut padanya, demikian contoh yang diberikan oleh para ulama di masa lampau. Beberapa adab menuntut ilmu di atas diambil dari link website berikut Kesimpulan Dari paparan sederhana di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa menuntut ilmu agama haruslah didahului dengan mempelajari adab-adabnya. Hal ini sebagaimana arahan dari para ulama yang telah kami kutipkan, karena apalah arti seseorang memiliki ilmu yang banyak namun kurang atau tidak memiliki adab. Tentu hasilnya tidak menjadi sesuatu yang baik. Semoga Allah memberikan taufik pada kita semua. Disusun oleh Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله Selasa, 27 Syawwal 1442 H/ 8 Juni 2021 M Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab LIPIA Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله klik disini