adab sebelum ilmu ilmu sebelum amal
PENTINGNYAADAB SEBELUM ILMU ️ ️ ️ Saya melihat banyak penuntut ilmu pada zaman kita bersungguh-sungguh, tetapi tidak sampai kepada ilmu. Tidak mendapat
SekolahAdab Insan Mulia. Adab – Ilmu – Amal. Search. FB; IG; Twitter; Telegram; YouTube; Menu. Home; Sesi 08 Sekolah Adab Untuk Orang Tua (SARAT) Level 01 – Ta’dib Generasi Ulama Umara di Era Disrupsi bersama Dr. Adian Husaini (SPS-UIKA Bogor | PRISTAC) Ahad, 10 Sya’ban 1443 H/13 Pebruari 2022, WIB Adab Sebelum Ilmu.
Kalaukita ingat, waktu kecil dulu, ibubapa kita selalu bacakan and sekaligus mengajar kita baca doa sebelum tidur. Bacaan doa tidur adalah:”باسمك اللهم أحيا وأموت (Dengan menyebut nama Allah aku hidup dan mati). Selepas itu, tadah tapak tangan, baca
1 Sangat Penting. Ta'limul Muta'allim adalah salah satu buku paling penting dalam dunia pendidikan Islam. 2. Legendaris. Sudah berabad-abad menjadi pegangan wajib di pondok pesantren. 3. Ilmu yang Barokah. Berisi panduan menuntut
Adabduduk di majelis ilmu. Untuk terus rajin menuntut ilmu dalam majelis ilmu syar’i diperlukan bekal ilmu, sebelum mengamalkannya. Agar langkah kita didalam menuju majelis ilmu mendapatkan kebaikan dan
4 Tidak berbicara tepat di hadapan guru. Penuntut ilmu sebaiknya mengatur jarak yang baik sebelum berbicara kepada guru. 5. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau sibuk. 6. Harus pandai mengatur waktu; jangan sampai mengganggu waktu sang guru, terutama jika memang tidak di jam pelajaran. 7.
Implementasi Pendidikan Adab Sebelum Ilmu Untuk Membentuk Perilaku Kemandirian Siswa Di MI Muhammadiyah 6 Nglegok”. Proses penelitian skripsi ini tidak lepas dari bantuan semua pihak. Semoga semua bantuan yang telah diberikan dapat menjadi Amal yang senantiasa mendapat ridho Allah dan di berikan balasan yang berlipat ganda kepada
Sebelummemulai pembelajaran di rumah maupun di sekolah, ada baiknya diawali dengan membaca doa belajar. Berdoa sebelum belajar dimaksudkan agar diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Berikut ini kumpulan doa sebelum dan sesudah belajar dikutip dari Buku Kumpulan Doa dari Dirjen Bima Islam Kemenag.
Danapabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11). Namun ada hal yang perlu didahulukan sebelum ilmu, yaitu adab.
KeseriusanUlama untuk menempatkan adab sebelum ilmu juga dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab adab yang ditulis oleh para Ulama, diantaranya adalah: Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal hlm. 31 Maktab al Islami Beirut. Oleh: Obi Robi’a Al Aslami.
. Home Tausyiah Sabtu, 06 Februari 2021 - 2227 WIBloading... Ustaz Budi Ashari, dai yang juga pakar sejarah Islam. Foto/Ist A A A Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Abu Daud, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Islam sangat menekankan akhlak karena baginda Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi uswatun hasanah teladan yang baik. Bahkan Nabi menegaskan dalam sabdanya, bahwa yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak mulia. Baca Juga Begitu berharganya akhlak dan adab sehingga umat Islam diperintahkan untuk memuliakan akhlak dan adab. Akhlak mulia merupakan cerminan keimanan yang juga Pakar Sejarah Islam Ustaz Budi Ashari menerangkan, akhlak dan keteladanan kepada seorang guru adalah sesuatu yang bukan merupakan pilihan, tetapi adalah keharusan. Seorang guru adalah seorang yang menjadi teladan bagi siapapun anak didiknya."Keteladanan itu sesuatu yang dipelajari oleh murid sebelum dia mempelajari ilmunya. Adab akhlak itu sangat luar biasa," kata Ustaz Budi Ashari dalam satu Mubarok berkataتعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين"Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun."Masya Allah. Beliau dari para gurunya belajar keteladanan mereka, meniru mereka, mempelajari akhlak mereka 30 tahun lamanya belajar itu. Dan belajar ilmu hanya 20 tahun, lebih Ibnu Jauzi dalam Shifatush Shafwah juga menyampaikan pernyataan Abdullah bin Mubarak yang lainnya bahwa adab itu dua pertiga ilmu. Kalau seseorang ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, ilmu yang banyak, dan melimpah, maka berlajarlah adab sebelum ilmu."Maka berdirilah untuk guru berikan kepada mereka kemuliaan karena nyaris saja guru menjadi seperti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam," ajak Ustaz fiikum, Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan pahala balasan terbaik atas jasa-jasa para guru. Baca Juga Wallahu A'lamrhs menuntut ilmu adab akhlak akhlak islam ustaz budi ashari Artikel Terkini More 27 menit yang lalu 28 menit yang lalu 48 menit yang lalu 55 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
Islam mengajarkan, proses belajar tidak hanya menghasilkan insan yang berilmu, tetapi juga berakhlak karimah. Artinya, dalam mencari ilmu, adab harus selalu dipegang teguh dan diamalkan. Menurut Ustaz Mus’tain Nasoha, pentingnya adab berada pada tataran yang mendahului berilmu. Dai muda asal Solo, Jawa Tengah, itu menerangkan, adab dapat dimaknai sebagai kesopanan, sopan santun, atau tata krama yang selaras dengan ajaran Islam. Adab juga berarti kepatutan dalam urusan-urusan agama dan duniawi. Orang yang berkomitmen menjaga adab akan memahami hakikat berilmu. Lelaki yang akrab disapa Gus Musta’in itu memberikan beberapa contoh adab, yakni kesabaran. Menukil Imam Syafii, barangsiapa yang tidak bersabar saat menuntut ilmu, maka hidupnya akan sengsara hingga akhir hayat. Sebaliknya, bersabar dalam mencari ilmu, akan berujung pada kemuliaan di dunia dan akhirat. “Pertama, adab yang harus dimiliki seorang pencari ilmu adalah harus sabar dan sabar ini adalah kunci utama,” kata mubaligh yang lahir di Gerobogan, Jawa Tengah, pada 1992 silam itu. Bagaimana kiat-kiat menjadi seorang pembelajar yang baik sehingga terus konsisten dalam beradab? Seperti apa contoh teladan dari kaum ulama terdahulu mengenai pentingnya adab? Untuk menjawabnya, berikut petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta itu. Perbincangan berlangsung baru-baru ini melalui sambungan telepon. Bagaimana Islam memandang kedudukan pencari ilmu? Mencari ilmu, menurut ajaran Islam, itu hukumnya wajib. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” Kanjeng Nabi SAW juga mengingatkan, untuk menilai apakah seseorang baik atau tidak, lihatlah seperti apa semangatnya dalam belajar. Bila dia semangat, misalnya, datang ke majelis taklim, pada hakikatnya ia telah diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Beliau juga menyatakan, “Thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wal muslimah.” Di hadis sahih itu, kalimat yang digunakan ialah faridhatun, bukan faridhun. Huruf ta dalam faridhatun itu adalah ta mubalaghah, yang bermakna sangat'. Itu menunjukkan, mencari ilmu sangat wajib. Kanjeng Nabi SAW jarang-jarang menegaskan seperti itu. Namun, dalam bab ilmu beliau menyatakan sangat wajib. Imam Ahmad bin Ruslan dalam kitab Zubad berkata, berislam itu tak akan benar kecuali dengan ilmu. Kalau orang berislam dan enggan belajar, semua ibadahnya dilakukan tanpa dasar ilmu. Maka amalannya ditolak Allah. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih guru? Syekh Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim telah menulis tentang hal-hal yang harus disiapkan ketika mencari guru. Pertama, seseorang harus duduk di depan guru terlebih dahulu untuk melihat, apakah cocok dengan guru tersebut atau tidak. Jadi, tidak langsung berguru. Kalau kita melihat para ulama zaman silam, mereka duduk-duduk dahulu di majelisnya seorang ulama untuk memastikan kecocokannya. Guru yang cocok itu harus sesuai dengan ilmu yang hendak dicari. Misalnya, kita mau belajar ilmu fikih, maka belajar ke ulama yang ahli fikih. Carilah guru karena ilmunya. Kemudian, sanad ilmu sang guru juga harus jelas. Kalau bisa, carilah guru yang nasabnya bagus. Karena, nasab yang bagus akan menjadi salah satu sebab ilmu kita diberkahi Allah. Kedua, jangan mencari guru karena gelarnya. Carilah guru karena ilmunya. Kemudian, sanad ilmu sang guru juga harus jelas. Kalau bisa, carilah guru yang nasabnya bagus. Karena, nasab yang bagus akan menjadi salah satu sebab ilmu kita diberkahi Allah. Terakhir, carilah guru yang berakhlak baik. Ini sebagaimana dikatakan Hammad bin Abi Sulaiman dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Makanya, dalam kitab Hasyiyah Bajuri juga, orang bisa dipanggil “syekh” itu tiga syaratnya berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan memiliki pengikut yang baik atau banyak. Mengapa sanad keilmuan itu penting? Dikatakan oleh Imam Abdullah bin Mubarak, bersanad itu salah satu daripada syarat beragama. Barangsiapa yang tidak bersanad dalam beragama, ia akan berbicara sesuai dengan hawa nafsunya sendiri. Makanya, Kanjeng Nabi mengingatkan, barangsiapa yang membaca Alquran, hadis, atau hukum Islam sesuai dengan otaknya sendiri, tanpa disertai ilmu tafsir atau ilmu hadis, maka tempatnya di neraka. Bahkan, Imam Malik bin Anas pernah mengatakan dari Imam Ibnu Sirin, ilmu adalah bagian agama. Kalau orang beragama dan tidak berilmu, maka agamanya tidak sah. Karena itulah, siapapun harus memperhatikan dari mana ilmu itu diperolehnya. Syekh Sufyan ats-Tsauri mengatakan, sanad ibarat pedang atau senjata bagi orang beriman. Kalau Mukmin tidak memiliki senjata, bagaimana bisa memenangkan jihad? Artinya, kalau tidak memiliki sanad, bagaimana dia bisa benar dalam berislam? Maka, tidak hanya harus menuntut ilmu dan berguru. Gurunya pun mesti bersanad sampai Nabi Muhammad SAW. Kalau tidak demikian, seseorang akan cenderung radikal nanti dalam memahami agama -Red. Bagaimana pentingnya adab seorang pembelajar, khususnya terhadap guru? Tentu, adab menjadi penting. Pertama-tama, pencari ilmu memiliki adab, yakni sabar. Kesabaran memang kunci utama. Imam Syafii mengatakan, barangsiapa yang tidak bersabar saat menuntut ilmu, maka hidupnya akan sengsara hingga akhir hayat. Barangsiapa bersabar dalam mencari ilmu, ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Adab yang kedua, seorang murid harus selalu bersangka baik kepada gurunya. Dikatakan oleh Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, barangsiapa orang yang tidak beriktikad, tidak meyakini gurunya baik, maka ia tidak akan mendapatkan kemuliaan dari ilmu yang telah diperolehnya. Ketiga, seorang pencari ilmu harus menyadari, dirinya akan menjadi calon penerus para nabi. Sebab, ulama adalah pewaris para nabi. Maka, hendaknya ia senantiasa menjaga adab, seperti ketika berbicara atau makan. Beradabnya seperti adab Rasulullah SAW. Seorang ahli ilmu harus berusaha terdepan dalam mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW. Lalu, adab berikutnya ialah menghormati gurunya. Penghormatan juga kepada keluarga gurunya, kitab-kitab karya gurunya, serta orang-orang yang lebih tua. Wujudnya bisa beragam. Misal, tidak berjalan di depan gurunya. Berjalan depan guru bisa menjadi salah satu sebab ilmu kurang berkah. Di samping itu, jangan mendahului guru dalam berbicara. Seperti apa keteladanan dari generasi salaf tentang adab sebelum ilmu? Para ulama salaf tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Rutinitasnya selalu bersama dengan ilmu. Misalnya, Imam Syafii. Dirinya paling tidak senang kalau pergi ke tukang cukur. Daripada mencukur rambutnya, katanya, lebih baik mencari ilmu. Kalaupun jadi ke tukang cukur rambut, itu dilakukannya cepat-cepat karena ingin segera lanjut belajar. Bahkan, dalam satu kitab dikatakan, Imam Syafii pernah agak diprotes oleh tukang cukurnya. Kata tukang cukurnya, “Wahai imam, tolong berhenti sebentar. Karena, kalau tidak berhenti, mulut Anda akan terpotong.” Namun, Imam Syafii mengatakan, “Lebih baik lidahku terpotong daripada aku harus satu detik berhenti muraja’ah Alquran.” Contoh lainnya ialah, bapaknya Imam Ibnu Taimiyah. Ia juga pernah menjual barang-barang miliknya hanya untuk membayar seseorang duduk di depan kamar mandinya. Sebab, setiap bapaknya ini masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin dari dalam kamar mandi pun tetap mendengarkan ilmu. Jadi, begitu semangatnya para ulama zaman dahulu dalam mencari ilmu. Keteladanan juga tecermin dalam konsistensi mereka yang sangat berhati-hati dalam makan dan minum. Artinya, menerima rezeki hanya dari jalan yang halal serta mengonsumsi yang halal pula. Makanya, para kiai kita juga sangat berhati-hati. Termasuk para pendiri Pondok Pesantren al-Muayyad Solo, Jawa Tengah. Bahkan, pasir yang dibawa ke pondok itu disucikan terlebih dahulu untuk menjaga dari najis. Makanan yang disuguhkan kepada para tukang juga terjamin benar-benar halal. Jangan sampai tercampur dengan perkara-perkara yang haram. Sebab, mengonsumsi yang haram akan menyulitkan diri kita untuk menyerap ilmu-ilmu agama. Apa saja kiat agar para pembelajar bisa konsisten dalam semangat menuntut ilmu? Pertama-tama, pahami hakikat kita sebagai manusia. Dalam bahasa Arab, manusia disebut al-insan. Asal katanya, anisa-ya'nisu dan anasa-ya'nusu. Artinya, makhluk yang selalu rahmah, selalu disiplin. Lalu, tiap manusia diperintahkan untuk beriman, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW. Mengapa nama beliau Muhammad? Muhammad itu artinya ialah orang yang banyak pujian. Dipuji karena banyak ilmunya di dunia dan akhirat. Makanya, kita sebagai pengikuti Rasulullah SAW memang harus berilmu. Dalam kitab Ihya Ulum ad-Din juga dijelaskan, suatu kali Rasulullah SAW pernah masuk ke masjid. Lantas, beliau melihat ada majelis zikir dan majelis ilmu. Beliau ternyata memilih majelis ilmu. Tidak boleh kita belajar ilmu karena takut dengan neraka. Tidak boleh juga kita belajar karena terlalu butuh surga. Harus tahu diri. Tujuan kita belajar ilmu adalah tetap harus untuk mencari ridha Allah. Puncak ilmu ialah timbulnya rasa takut kepada Allah. Benarkah demikian? Ciri-ciri orang yang benar-benar berilmu itu adalah takut kepada Allah. Takut di sini bukan berarti takut akan siksa neraka. Bukan pula karena kita butuh surga. Yang terpenting adalah senantiasa takut untuk tidak memanfaatkan hidup dalam rangka beribadah kepada Allah, dalam upaya meraih ridha-Nya. Karena ibadah harus dengan ilmu, maka takut pula bahwa waktu terlewatkan tanpa bersama dengan belajar atau menuntut ilmu. Tidak boleh kita belajar ilmu karena takut dengan neraka. Tidak boleh juga kita belajar karena terlalu butuh surga. Harus tahu diri. Tujuan kita belajar ilmu adalah tetap harus untuk mencari ridha Allah. Kesan dari Negeri Para Habib “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.” Perkataan itu tidak bersumber dari hadis. Namun, ada pesan yang cukup dalam dari ungkapan tersebut, yakni perlunya memperluas rihlah keilmuan. Pengembaraan intelektual juga dilakukan Ustaz Musta’in Nasoha. Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta itu tidak hanya menuntut ilmu di dalam, tetapi juga luar negeri. Salah satu negara tempatnya belajar ialah Yaman. Di sana, terdapat salah satu pusat keunggulan yang sangat terkenal di dunia Islam, yaitu Tarim, Hadramaut. Bahkan, daerah tersebut menyandang julukan Negeri Para Habib. Sebab, ada banyak alim ulama yang berasal dari kawasan Yaman tersebut. Sebagian besar di antaranya juga memiliki nasab sampai pada Rasulullah SAW. Di kota para habib itu, pengasuh Majelis Raudlatul Muhibbin Solo tersebut menempuh studi di Fakultas Syariat Universitas Imam asy-Syafi’i. “Banyak ulama di sana kami ambil kitabnya dan sanadnya. Hampir semua kitab besar kami kaji secara talaqi atau langsung,” ujar dai yang akrab disapa Gus Musta’in itu kepada Republika beberapa waktu lalu. Ada kesan yang sulit terlupakan tentang Hadramaut. Menurutnya, kehidupan umat Islam di sana tak lepas dari menuntut ilmu-ilmu agama. Semua orang cenderung sibuk belajar. Suasananya juga sangat harmonis. Sukar menemukan orang yang saling bermusuhan. Penduduk Tarim masyhur akan kelembutan hati, gemar bersedekah terutama kepada para pencari ilmu. “Saya tidak melihat orang di sana itu hidupnya tidak ada manfaatnya. Semua waktu yang ada dimanfaatkan mereka. Hampir semua orang di sana itu berusaha mengamalkan akhlaknya Nabi Muhammad SAW,” katanya. Hampir semua orang di sana itu berusaha mengamalkan akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Keistimewaan Yaman, lanjutnya, bahkan disebut oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis sahih, beliau menerangkan, siapapun yang hendak mencari ilmu-ilmu agama, hendaklah mengadakan perjalanan ke negeri di selatan Jazirah Arab itu. “Kita tidak melihat orang di jalan kecuali membawa kitab. Kita tidak melihat orang pandai besi kecuali dari mulutnya selalu mengalir bacaan-bacaan Alquran,” kenang Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama LBM NU Surakarta itu. Sebelum merantau ke Hadramaut, alumnus S-2 Universitas Islam Kediri itu telah belajar di sejumlah pondok pesantren. Mula-mula, Gus Musta’in menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ki Ageng Tarub. Lembaga yang berlokasi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, itu diasuh oleh yayasan yang didirikan keluarganya. Pesantren al-Faqih Grobogan dan Pesantren al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta juga menjadi tempatnya menuntut ilmu.
SALAH satu cara agar ilmu agama tetap bertahan dan berkah adalah dengan memperhatikan adab. Adab sangat penting dalam menuntut ilmu agama. Jika ada orang ingin minta bantuan misalnya minta makanan kepada kita, tapi adabnya ketika meminta tidak sopan, semisal kasar meminta bahkan membentak, apakah kita akan memberi? Tentu tidak. Demikian juga dengan ilmu agama, bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu dan keberkahannya jika cara dan adab menuntut ilmu tidak kita tunaikan. BACA JUGA Berilmu Dulu Baru Beramal Itu Penting Sebagaimana disebutkan orang-orang soleh terdahulu, adab dalam menuntun ilmu itu lebih penting dari banyaknya ilmu itu sendiri. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, بالأدب تفهم العلم “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.” Guru penulis, Syaikh Sholeh Al Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين BACA JUGA Mendalami Ilmu Itu seperti Berenang “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk adab sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” [] SUMBER RUMAYSHO
Lokasi halaman Beranda adab Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu By at 1/04/2021 Dari gambar ini kita belajar bahwa adab lebih penting daripada ketahui, bahwa perbedaan manusia dengan binatang adalah akal atau ilmu. Tetapi tingkatan yang lebih tinggi dari ilmu yakni adab atau akhlak. Karena seberapapun banyaknya ilmu tanpa disertai adab yang baik akan bisa menjadikan manusia pun berperilaku seperti binatangre keserakahan, tamak, kejam dan perilaku tercela lainnyaImam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”Kenapa para ulama mendahulukan mempelajari adab?Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”Sebegitu pentingkah mempelajari adab, baru ilmu kemudian???Nah, misalnya di kehidupan nyata pun mungkin dari kita pernahkah menjumpai seorang yang sangat pintar, tapi sombong. Cerdas, tapi tak berperilaku baik. Pandai, tapi adab terhadap orangtua/gurunya kita pun memandang tidak baik orang seperti itu, karena budi pekertinya yang tidak sinkron dengan mengapa adab diutamakan untuk dipelajari terlebih adab itu?Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan, adab adalah menerapkan “akhlak-akhlak yang mulia”Urgensinya kita harus memiliki adab atau akhlaq yang baik sebelum berilmu. Yakni,Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaأكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا“Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata “hasan shahih”.Jelas dikatakan, sebaik-baik manusia yang paling baik akhlaqnya. Oleh karenanya, mau jadi sebaik-baik manusia?Yaitu dengan memperbaiki akhlaqnya.. Baca Juga Info Penting langganan artikel menerima tulisan, informasi dan berita untuk di posting menerima kritik dan saran, WhatsApp ke +62 0895-0283-8327
Oleh Izzuddin Ar Rifqiy Mahasiswa di Jakarta “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh,” Al-A’raaf 7199. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” An-Nahl 16125. “Dan sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang Agung,” Al-Qalam, 684. BERAPA tahun Allah menyiapkan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi? Ya, 40 tahun. Yang paling menonjol dalam diri beliau selama 40 tahun tersebut adalah akhlaknya. Sebutan Al-Amin sebagai buktinya. Tapi selama kurun waktu tersebut, Rasulullah bahkan tidak bisa baca tulis. Tapi hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan beliau. Siapa yang tak kenal imam Malik, salah satu satu dari ulama 4 madzhab yang pertama membukukan hadits dalam kitabnya al-Muwatta’. Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.” Lihatlah betapa indahnya nasehat sang ibunda kepada anaknya. Bukannya menuntut untuk mencari nilai setinggi-tingginya. Namun malah menjadikan akhlak yang menjadi prioritas utama. Akhlak saat ini menjadi komoditas yang mahal. Karena manusia yang berakhlak mulia pasti akan dihargai dimanapun ia berada. Bukankah kita ingat hadist Nabi, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya,” HR Bukhari 5569. Orang yang baik akhlaknya adalah lentera yang menyala benderang. Dia hangat dan menentramkan, orang-orang suka berada di dekatnya. Karena dia pasti memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan ilmu itu adalah itu adalah gagang dari lenteranya. Kalau keduanya saling bersinergi, lentera bisa kesana kemari. Lentera dengan dengan gagang punya daya jelajah yang lebih tinggi dengan kegunaan yang lebih banyak. Bisa menyalakan sumber sumber cahaya lainnya. Lilin diseberang sana, sebelumnya tanpa cahaya. Berkat lentera yang punya mobilitas tinggi kemudian berbagi apinya akhirnya lilin bisa menyala dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Kemudian lentera bisa melanjutkan perjalannya untuk berbagi. Orang yang berilmu tapi tidak berakhlak baik berarti cuma lentera dengan gagang yang menyala kecil atau sama sekali tidak menyala. Hanya cukup untuk menerangi dirinya sendiri. Saking kecilnya nyala apinya bila dibuka tutupnya, matilah apinya. Tak dapat ia bagikan. Dan orang-orang tidak menerima karena ia tidak memberi manfaat. Hanya berguna bagi dirinya sendiri. Sedangkan tanpa ilmu dan akhlak. Bagai orang berjalan tanpa lentera, hanya menabrak kesana kemari. Yang ada malah kemungkinan daya rusaknya lebih tinggi. Orang-orang berharap ia cukup diam saja ditempatnya. Maka kita jangan tertipu oleh idiom-idiom yang beredar saat ini seperti “Bicara kasar tapi jujur lebih baik dari pada santun bicara tapi mental bejat.” Keduanya tidak benar. Siapa yang menjamin yang berbicara kasar benar-benar jujur? Lalu yang kedua adalah sifat munafik yang harus dijauhi kita semua. Ada pilihan yang lebih baik yaitu santun nan jujur. Saya pernah membaca di sebuah buku tentang pernyataan seorang bule terhadap pentingnya akhlak. Aku lebih khawatir apabila anakku tidak bisa mengantri daripada ia sekadar tak bisa berhitung. Karena untuk mengajarinya mengantri butuh waktu yang lama dan akan lebih berguna baginya kelak di masa depan. Jika sudah demikian, apa yang bisa kita banggakan sebagai warga dari negara muslim terbesar dunia? Pun pula untuk teman-teman di luar sana, ketahuilah bahwa para Ulama mempelajari akhlak lebih lama sebelum mempelajari ilmu. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk adab sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari. Karena perbedaan bukanlah berarti permusuhan. Seperti kata Imam Syafi’i pada sahabatnya Abu Musa “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara bersahabat meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” Siyar A’lamin Nubala’, 10 16. Wallahu a’lam. []
0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesAdab Sebelum Ilmu Dan Ilmu Sebelum AmalOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
JAKARTA - Pada masa generasi Thabi'in, ada seorang ulama cendekiawan yang sangat luas dan mendalam keilmuannya. Sampai-sampai oleh para ulama lainnya digelari "Rabi'atur Ra'yi" Logika musim semi. Gelar untuk menggambarkan betapa jenius ulama ini. Praktis, Rabi'atur Ra'yi menjadi tujuan uatama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki. Ada momen terpenting, menurut saya, yang perlu kita underline, ketika Malik bin Anas akan belajar kepada Rabi'atur Ra'yi, yaitu nasehat sang Bunda. "Nak, camkan pesan ibu, pelajarilah olehmu adab Rabi'atur Ra'yi sebelum kau pelajari ilmunya." Sebuah pesan singkat, namun sangat mendalam maknanya. Sejatinya, ada pesan lain yang tersirat dari pesan Bundanya Malik bin Anas, yaitu "Nak, jika kau tak temui adab pada diri Rabi'atur Ra'yi, maka kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya." Mengapa? Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun jika tiada adab di dalamnya. Terlebih bila ilmu setitik nila, plus kehilangan adab. Allah telah menyindir keras para ahli ilmu Rabi Bani Israil yang tiada adab dalam dirinya dengan perumpamaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab dipunggungnya QS. 62 5. Keledai tentulah tiada paham untuk apa kitab-kitab yang dipikulnya itu. Demikianlah, Allah menyindir keras para ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya, namun tiada adab tertanam dalam diri dan lisannya. Sia-sia ilmunya. Bahkan, malah menyeretnya pada jika para ulama sepakat, "Kada al-adab qabla al-'ilm" Posisi adab itu sebelum ilmu. Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, "Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul 'ilm 'isyrina sanah" Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya. Jernih sekali nasehat Imam Asy-Syafi'i kepada Imam Abu Abdish Shamad, gurunya anak-anak Khalifah Harun Al-Rasyid, "Ketahuilah, yang pertama kali harus kamu lakukan dalam mendidik anak-anak khalifah adalah memperbaiki dirimu sendiri. Karena, sejatinya paradigma mereka terikat oleh paradigma dirimu. Apa yang mereka pandang baik, adalah apa-apa yang kau lakukan. Dan, apa yang mereka pandang buruk, adalah apa-apa yang kau tinggalkan." Maka, sudahkah konsep adab sebelum ilmu diterapkan di sekolah-sekolah kita? Sudahkah kita belajar adab sebelum ilmu? Dan, sudahkah kita belajar ilmu kepada guru yang memiliki adab mulia? Oleh Muhammad Syafi'ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Sahabat Remaja Indonesia BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Gambar Poster Dakwah yang diikutsertakan dalam Kompetisi Islamic Poster Competition Eksis FE Unnes. Adab Menuntut Ilmu adalah Iman sebelum adab, adab sebelum ilmu, dan ilmu sebelum amal. Maksud dari iman sebelum adab, yaitu kita HARUS paham sejatinya manusia di bumi ini diciptakan sebagai apa? Tentunya jika mengaku sebagai makhluk Allah yang diberikan banyak kelebihan, kita wajib tahu pula bahwa Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain untuk beribadah kepada-Nya. Dari konsep itulah kemudian kita akan tahu mengenai adab berhubungan dengan Allah, adab serta berhubungan dengan manusia sebagai sarana beribadah secara horizontal. Adab sebelum ilmu berarti bahwa diri manusia HARUS memiliki akhlak yang baik sebelum menerima ilmu. Misalnya, seorang tahfidz al-Qur’an harus memiliki akhlak mulia. Jika tidak, bisa jadi ia akan menggunakan kelebihannya itu untuk menyombongkan diri. Kemudian, ilmu sebelum amal. Sebelum mengamalkan suatu hal, kita WAJIB hukumnya menguasai ilmunya terlebih dahulu. Karena kita harus mengerti apakah amalan atau perbuatan yang hendak kita lakukan sesuai dengan hukum-Nya atau tidak. Terkadang, seseorang memiliki semangat yang luar biasa, namun masih minim ilmunya. Tetapi karena semangatnya yang membara, ia tetap bergerak padahal sebenarnya salah karena ketidaktahuannya. Akan sangat berbahaya jika seseorang bersemangat berjihad, namun ia belum memperoleh ilmu agama secara mendalam. Suatu saat ketika melihat suatu kelompok melakukan tindakan yang menyimpang atas nama agama, bisa jadi ia begitu saja percaya dan mengikuti perbuatan salah tersebut. Oleh karenanya, ketiga adab menuntut ilmu WAJIB kita pahami dan kita lakukan secara berurutan. Tidak cukup menuntut ilmu hanya berpegang pada semangat. Menuntut ilmu pun ada aturannya, agar niat baik yang kita tanam tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Supaya pencapaian dapat diraih setinggi mungkin, serta kelak dapat kita petik seindah yang telah kita tanam. Kesuksesan itu tidak dapat diukur dengan harta yang bergelimpangan maupun tahta yang setinggi angkasa. Allah MahaTahu segalanya. Suksesnya diri kita, hanya Dia YangAgung yang dapat menilainya. Wallahu a’lam bishawab.
Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia mempunyai kemampuan untuk selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Sebab manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, yang dilengkapi akal, fikiran, dan nafsu yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Dalam pandangan ilmu sosiologi, manusia sebagai makhluk sosial memiliki makna sebuah konsep ideologi, bahwa masyarakat atau struktur sosial merupakan sebuah organisme yang memiliki kehidupan, maka dalam hal ini, manusia tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bergantung pada makhluk hidup yang lain atau lingkungan. Maka dalam kehidupannya, manusia membutuhkan bekal. Dalam wikipedia, dijelaskan mengenai ilmu. Yaitu usaha sadar sepenuhnya untuk meneliti, menemukan, dan mengembangkan pemahaman manusia dari berbagai unsur kenyataan dalam alam manusia. Pengertian tersebut jelas bahwa dalam hidupnya, bekal pertama yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan untuk hidup bermasyarakat. Sebagaimana contohnya, ketika kita ingin bersosialisasi dengan masyarakat dengan media sholat berjamaah, maka kita harus paham ilmunya tentang sholat berjamaah. Kemudian ketika kita ingin membeli sesuatu di pasar, kita harus paham ilmunya berhitung. Maka, keilmuan dalam setiap lini kehidupan sangat penting dimiliki, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan jika tanpa ilmu. Kewajiban memperoleh keilmuan juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya "Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap kaum muslimin dan muslimat" HR. Ibnu Majah. Terkini
Salah satu adab yang diajarkan dalam Islam adalah adab menuntut ilmu. Ya, adab dalam menuntut ilmau sangat diperlukan. Bahkan Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada orang Quraisy,تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Berikut ini adalah adab dalam menuntut ilmu yang perlu diketahui1. Niat karena AllahHal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menuntut ilmu adalah membenarkan niat. Niatkan semua ilmu yang akan kamu pelajari hanya karena Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Bayyinah ayat 5, وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِPadahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Rasulallah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” HR. Ahmad2. Selalu berdoaDalam menuntut ilmu hendaknya kita selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam menyerap ilmu dan Azza wa Jalla berfirmanوَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًاdan katakanlah ”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20114]Baca jugaAdab menghadiri pernikahan dalam IslamAdab i’tikaf di bulan RamadhanAdab berkurban dalam IslamAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdapun doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul dalam menuntut ilmu adalah,اَللَّهُمَّ انْفًًًًًًََعْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماًYa Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]3. Selalu bersungguh-sungguhKetika menuntut ilmu hendaknya kita bersungguh-sungguh dan selalu antusias untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Seolah-olah tidak pernah kenyang dengan ilmu yang didapatkan, hendaknya kita selalu berkeinginan untuk menambah ilmu shallallahu alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang yaitu 1 orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan 2 orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” HR. Al-Baihaqi4. Menjauhi maksiatUntuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, maka jauhkanlah diri dari berbagai macam maksiat. Maksiat akan membuat otak menjadi sulit untuk berkonsentrasi sehingga ilmu sangat sulit أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ »Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat maksiat, maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya yang artinya, Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”Baca jugaAdab bercandaAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdab memotong rambut dalam IslamAdab menyamnpaikan nasihan dalam IslamAdab puasa Ramadhan5. Selalu rendah hatiBanyak sekali orang berilmu yang justru menjadi sombong hanya karena merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Jika ingin mendapatkan ilmu yang baik dan bermanfaat, maka tetaplah menjadi pribadi yang rendah Mujahid mengatakan,لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ“Dua orang yang tidak belajar ilmu orang pemalu dan orang yang sombong” HR. Bukhari secara muallaq6. Memperhatikan penjelasanJika ingin mendapatkan ilmu dengan mudah, maka konsentrasilah ketika guru atau ustadz menjelaskan. Fokuslah untuk menyerap ilmu yang disampaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,“… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” QS. Az-Zumar 17-187. Diam menyimakSalah satu adab dalam menuntut ilmu yang banyak ditinggalkan adalah diam ketika guru atau ustadz menjelaskan. Jangan berbicara atau bahkan mengobrol hal yang sama sekali tidak penting bahkan tidak berhubungan dengan pelajaran yang disampaikan. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al A’raf ayat 204,وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَDan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat jugaFungsi Iman Kepada Qada dan QadarManfaat Membaca Buku Menurut IslamNasib Al Qur’an di Hari KiamatMengenang Wafatnya Pedang Allah Khalid bin WalidHukum Membatalkan Perjanjian Dalam Islam8. MenghafalSetelah berhasil memahami ilmu yang disampaikan, maka hendaknya hafal lah ilmu tersebut agar lebih mudah diingat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” HR. At-Tirmidzi.9. MengamalkanAkan percuma setiap ilmu yang didapatkan jika tidak diamalkan. Sudah seharusnya kita mengamalkanilmu yang kita dapatkan agar mendapatkan keberkahan dari Allah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya tidak mengamalkan ilmunya adalah seperti lampu lilin yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” HR Ath-Thabrani10. MendakwahkanTidak ada ilmu yang bermanfaat jika tidak dibagikan kepada orang lain. Maka sebarkanlah ilmu tersebut kepada mereka yang belum mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” QS. At-Tahriim 6.Itulah 10 adab menuntut ilmu yang perlu diketahui. Semoga setiap ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan menjadi berkah bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Aamiin.