adab sebelum ilmu ilmu sebelum amal
Ilmu itu didahulukan sebelum berkata dan beramal.” Simak selengkapnya mengenai pembahasan tentang “Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal” ini di dalam rekaman kajian yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrazaq Al-Badr berikut ini. Semoga bermanfaat. Dengarkan dan Download Kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah: Berilmu Sebelum Berkata
PENTINGNYA BELAJAR ADAB SEBELUM BELAJAR ILMU * Para ulama terdahulu sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata
Pentingnyaadab sebelum ilmu, Supaya menjadi berkat dan rahmat, Bukan alat keserakahan dan kesewenang-wenangan. - Mujahid Abrar 31. Matlamat bagi penuntut ilmu di setiap generasi 1. Takzimkan agama allah dalam diri. 2.
Mulaidalam hal ibadah, mencari ilmu, berdagang, bersosial dan sampai kepada adab-adab sebelum makan. Hal itu karena makanan halal merupakan dasar bagi setiap amal ibadah diterima di sisiNya. Sebaliknya jika memakan makanan yang haram, maka bukan hanya ibadahnya tidak diterima, tetapi doanya pun tidak diperkenankan oleh Allah SWT.
Mengingaturgensi tersedianya panduan belajar yang “sudah teruji selama ratusan tahun”, buku terjemahan ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Kitab Ta’limul Muta’alim adalah kitab yang cukup fenomenal. Jika di terjemahkan artinya ” Mengajari penuntut ilmu tentang metodologi pembelajaran”. Inti dari kitab ini adalah adab
PelajarilahAdab Sebelum Mempelajari Ilmu. Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy
MengenalAdab Sebelum Mengenal Ilmu. Mengenal Adab Sebelum Mengenal Ilmu. Adab Seorang Muslim Akhlaq Fatwa Ulama. Oleh Admin On 26 September 2018. 0. Bagikan Facebook Twitter Google+ Pinterest WhatsApp Email Print. Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam :
AdabMenyertai Ilmu. Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu menyalati jenazah. Setelah itu, seekor bagal didekatkan untuk beliau naiki. Datanglah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengambil tali kekangnya sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap ilmu dan keutamaan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Zaid pun berkata kepada Ibnu Abbas
Pentingnyaadab sebelum ilmu Judul buku: Ta'limul muta'allim Penulis: Imam Az-Zarnuji Tebal: 166 Buku ini membahas tentang adab sebagai pelajar (muta'alim) dalam belajar agar mendapatkan keberkahan dari proses belajarnya. Jadi, seorang pelajar harus memiliki adab dalam menuntut ilmu. Tujuan membaca buku ini: Saya ingin
Bismillah Mempelajari adab-adab islami secara umum merupakan perkara yg sangat urgen dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam. Bahkan mempelajari dan memahami adab-adab menuntut ilmu sangat dianjurkan bagi para penuntut ilmu sebelum mereka mulai mempelajari ilmu-ilmu syar’i itu sendiri.
.
Salah satu adab yang diajarkan dalam Islam adalah adab menuntut ilmu. Ya, adab dalam menuntut ilmau sangat diperlukan. Bahkan Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada orang Quraisy,تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Berikut ini adalah adab dalam menuntut ilmu yang perlu diketahui1. Niat karena AllahHal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menuntut ilmu adalah membenarkan niat. Niatkan semua ilmu yang akan kamu pelajari hanya karena Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Bayyinah ayat 5, وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِPadahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Rasulallah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” HR. Ahmad2. Selalu berdoaDalam menuntut ilmu hendaknya kita selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam menyerap ilmu dan Azza wa Jalla berfirmanوَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًاdan katakanlah ”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20114]Baca jugaAdab menghadiri pernikahan dalam IslamAdab i’tikaf di bulan RamadhanAdab berkurban dalam IslamAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdapun doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul dalam menuntut ilmu adalah,اَللَّهُمَّ انْفًًًًًًََعْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماًYa Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]3. Selalu bersungguh-sungguhKetika menuntut ilmu hendaknya kita bersungguh-sungguh dan selalu antusias untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Seolah-olah tidak pernah kenyang dengan ilmu yang didapatkan, hendaknya kita selalu berkeinginan untuk menambah ilmu shallallahu alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang yaitu 1 orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan 2 orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” HR. Al-Baihaqi4. Menjauhi maksiatUntuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, maka jauhkanlah diri dari berbagai macam maksiat. Maksiat akan membuat otak menjadi sulit untuk berkonsentrasi sehingga ilmu sangat sulit أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ »Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat maksiat, maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya yang artinya, Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”Baca jugaAdab bercandaAdab cukur rambut bayi dalam IslamAdab memotong rambut dalam IslamAdab menyamnpaikan nasihan dalam IslamAdab puasa Ramadhan5. Selalu rendah hatiBanyak sekali orang berilmu yang justru menjadi sombong hanya karena merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Jika ingin mendapatkan ilmu yang baik dan bermanfaat, maka tetaplah menjadi pribadi yang rendah Mujahid mengatakan,لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ“Dua orang yang tidak belajar ilmu orang pemalu dan orang yang sombong” HR. Bukhari secara muallaq6. Memperhatikan penjelasanJika ingin mendapatkan ilmu dengan mudah, maka konsentrasilah ketika guru atau ustadz menjelaskan. Fokuslah untuk menyerap ilmu yang disampaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,“… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” QS. Az-Zumar 17-187. Diam menyimakSalah satu adab dalam menuntut ilmu yang banyak ditinggalkan adalah diam ketika guru atau ustadz menjelaskan. Jangan berbicara atau bahkan mengobrol hal yang sama sekali tidak penting bahkan tidak berhubungan dengan pelajaran yang disampaikan. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al A’raf ayat 204,وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَDan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat jugaFungsi Iman Kepada Qada dan QadarManfaat Membaca Buku Menurut IslamNasib Al Qur’an di Hari KiamatMengenang Wafatnya Pedang Allah Khalid bin WalidHukum Membatalkan Perjanjian Dalam Islam8. MenghafalSetelah berhasil memahami ilmu yang disampaikan, maka hendaknya hafal lah ilmu tersebut agar lebih mudah diingat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” HR. At-Tirmidzi.9. MengamalkanAkan percuma setiap ilmu yang didapatkan jika tidak diamalkan. Sudah seharusnya kita mengamalkanilmu yang kita dapatkan agar mendapatkan keberkahan dari Allah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya tidak mengamalkan ilmunya adalah seperti lampu lilin yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” HR Ath-Thabrani10. MendakwahkanTidak ada ilmu yang bermanfaat jika tidak dibagikan kepada orang lain. Maka sebarkanlah ilmu tersebut kepada mereka yang belum mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” QS. At-Tahriim 6.Itulah 10 adab menuntut ilmu yang perlu diketahui. Semoga setiap ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan menjadi berkah bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Aamiin.
SALAH satu cara agar ilmu agama tetap bertahan dan berkah adalah dengan memperhatikan adab. Adab sangat penting dalam menuntut ilmu agama. Jika ada orang ingin minta bantuan misalnya minta makanan kepada kita, tapi adabnya ketika meminta tidak sopan, semisal kasar meminta bahkan membentak, apakah kita akan memberi? Tentu tidak. Demikian juga dengan ilmu agama, bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu dan keberkahannya jika cara dan adab menuntut ilmu tidak kita tunaikan. BACA JUGA Berilmu Dulu Baru Beramal Itu Penting Sebagaimana disebutkan orang-orang soleh terdahulu, adab dalam menuntun ilmu itu lebih penting dari banyaknya ilmu itu sendiri. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, بالأدب تفهم العلم “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.” Guru penulis, Syaikh Sholeh Al Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين BACA JUGA Mendalami Ilmu Itu seperti Berenang “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk adab sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” [] SUMBER RUMAYSHO
Oleh Izzuddin Ar Rifqiy Mahasiswa di Jakarta “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh,” Al-A’raaf 7199. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” An-Nahl 16125. “Dan sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang Agung,” Al-Qalam, 684. BERAPA tahun Allah menyiapkan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi? Ya, 40 tahun. Yang paling menonjol dalam diri beliau selama 40 tahun tersebut adalah akhlaknya. Sebutan Al-Amin sebagai buktinya. Tapi selama kurun waktu tersebut, Rasulullah bahkan tidak bisa baca tulis. Tapi hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan beliau. Siapa yang tak kenal imam Malik, salah satu satu dari ulama 4 madzhab yang pertama membukukan hadits dalam kitabnya al-Muwatta’. Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.” Lihatlah betapa indahnya nasehat sang ibunda kepada anaknya. Bukannya menuntut untuk mencari nilai setinggi-tingginya. Namun malah menjadikan akhlak yang menjadi prioritas utama. Akhlak saat ini menjadi komoditas yang mahal. Karena manusia yang berakhlak mulia pasti akan dihargai dimanapun ia berada. Bukankah kita ingat hadist Nabi, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya,” HR Bukhari 5569. Orang yang baik akhlaknya adalah lentera yang menyala benderang. Dia hangat dan menentramkan, orang-orang suka berada di dekatnya. Karena dia pasti memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan ilmu itu adalah itu adalah gagang dari lenteranya. Kalau keduanya saling bersinergi, lentera bisa kesana kemari. Lentera dengan dengan gagang punya daya jelajah yang lebih tinggi dengan kegunaan yang lebih banyak. Bisa menyalakan sumber sumber cahaya lainnya. Lilin diseberang sana, sebelumnya tanpa cahaya. Berkat lentera yang punya mobilitas tinggi kemudian berbagi apinya akhirnya lilin bisa menyala dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Kemudian lentera bisa melanjutkan perjalannya untuk berbagi. Orang yang berilmu tapi tidak berakhlak baik berarti cuma lentera dengan gagang yang menyala kecil atau sama sekali tidak menyala. Hanya cukup untuk menerangi dirinya sendiri. Saking kecilnya nyala apinya bila dibuka tutupnya, matilah apinya. Tak dapat ia bagikan. Dan orang-orang tidak menerima karena ia tidak memberi manfaat. Hanya berguna bagi dirinya sendiri. Sedangkan tanpa ilmu dan akhlak. Bagai orang berjalan tanpa lentera, hanya menabrak kesana kemari. Yang ada malah kemungkinan daya rusaknya lebih tinggi. Orang-orang berharap ia cukup diam saja ditempatnya. Maka kita jangan tertipu oleh idiom-idiom yang beredar saat ini seperti “Bicara kasar tapi jujur lebih baik dari pada santun bicara tapi mental bejat.” Keduanya tidak benar. Siapa yang menjamin yang berbicara kasar benar-benar jujur? Lalu yang kedua adalah sifat munafik yang harus dijauhi kita semua. Ada pilihan yang lebih baik yaitu santun nan jujur. Saya pernah membaca di sebuah buku tentang pernyataan seorang bule terhadap pentingnya akhlak. Aku lebih khawatir apabila anakku tidak bisa mengantri daripada ia sekadar tak bisa berhitung. Karena untuk mengajarinya mengantri butuh waktu yang lama dan akan lebih berguna baginya kelak di masa depan. Jika sudah demikian, apa yang bisa kita banggakan sebagai warga dari negara muslim terbesar dunia? Pun pula untuk teman-teman di luar sana, ketahuilah bahwa para Ulama mempelajari akhlak lebih lama sebelum mempelajari ilmu. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk adab sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari. Karena perbedaan bukanlah berarti permusuhan. Seperti kata Imam Syafi’i pada sahabatnya Abu Musa “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara bersahabat meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” Siyar A’lamin Nubala’, 10 16. Wallahu a’lam. []
JAKARTA - Pada masa generasi Thabi'in, ada seorang ulama cendekiawan yang sangat luas dan mendalam keilmuannya. Sampai-sampai oleh para ulama lainnya digelari "Rabi'atur Ra'yi" Logika musim semi. Gelar untuk menggambarkan betapa jenius ulama ini. Praktis, Rabi'atur Ra'yi menjadi tujuan uatama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki. Ada momen terpenting, menurut saya, yang perlu kita underline, ketika Malik bin Anas akan belajar kepada Rabi'atur Ra'yi, yaitu nasehat sang Bunda. "Nak, camkan pesan ibu, pelajarilah olehmu adab Rabi'atur Ra'yi sebelum kau pelajari ilmunya." Sebuah pesan singkat, namun sangat mendalam maknanya. Sejatinya, ada pesan lain yang tersirat dari pesan Bundanya Malik bin Anas, yaitu "Nak, jika kau tak temui adab pada diri Rabi'atur Ra'yi, maka kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya." Mengapa? Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun jika tiada adab di dalamnya. Terlebih bila ilmu setitik nila, plus kehilangan adab. Allah telah menyindir keras para ahli ilmu Rabi Bani Israil yang tiada adab dalam dirinya dengan perumpamaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab dipunggungnya QS. 62 5. Keledai tentulah tiada paham untuk apa kitab-kitab yang dipikulnya itu. Demikianlah, Allah menyindir keras para ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya, namun tiada adab tertanam dalam diri dan lisannya. Sia-sia ilmunya. Bahkan, malah menyeretnya pada jika para ulama sepakat, "Kada al-adab qabla al-'ilm" Posisi adab itu sebelum ilmu. Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, "Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul 'ilm 'isyrina sanah" Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya. Jernih sekali nasehat Imam Asy-Syafi'i kepada Imam Abu Abdish Shamad, gurunya anak-anak Khalifah Harun Al-Rasyid, "Ketahuilah, yang pertama kali harus kamu lakukan dalam mendidik anak-anak khalifah adalah memperbaiki dirimu sendiri. Karena, sejatinya paradigma mereka terikat oleh paradigma dirimu. Apa yang mereka pandang baik, adalah apa-apa yang kau lakukan. Dan, apa yang mereka pandang buruk, adalah apa-apa yang kau tinggalkan." Maka, sudahkah konsep adab sebelum ilmu diterapkan di sekolah-sekolah kita? Sudahkah kita belajar adab sebelum ilmu? Dan, sudahkah kita belajar ilmu kepada guru yang memiliki adab mulia? Oleh Muhammad Syafi'ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Sahabat Remaja Indonesia BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Ilustrasi Adab. Foto Islam, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah. Begitu penting ilmu dalam Islam hingga Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Walaupun begitu, ada hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu sebelum ilmu yakni berasal dari bahasa Arab yang artinya kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Sedangkan adab menurut Rasulullah SAW adalah pendidikan tentang kebaikan yang merupakan bagian dari buku Adab dan Doa Sehari-Hari untuk Muslim Sejati karya Thoriq Aziz Jayana, kedudukan adab dalam Islam lebih tinggi dari ilmu. Sejumlah ulama pun menyampaikan pendapat ulama Imam Malik mengatakan bahwa, "Pelajarilah adab terlebih dahulu sebelum mempelajari suatu ilmu.” Sebagaimana yang dilakukan Imam Ibnu Mubarak, ia mempelajari adab selama 30 tahun, setelah itu baru mempelajari ilmu selama 20 ulama Syaikh Sholeh Al Ushoimi menuturkan bahwa, “Dengan mempelajari adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit memperhatikan adab, maka ilmu akan menjadi sia-sia.” Dapat disimpulkan dari penuturan kedua ulama tersebut, penting untuk mempelajari adab sebelum ilmu. Sebab, orang yang tak beradab hidupnya tidak diberkahi Allah dan ilmunya juga tidak adab yang bisa diketahui umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari seperti adab terhadap kedua orang tua, guru, dan masyarakat. Simak penjelasan selengkapnya di bawah Adab. Foto dalam Kehidupan Sehari-hariMerangkum dari buku Pendidikan Agama Islam Akidah dan Akhlak kelas X karya Thoyib Sah Saputra dan Wahyudin, berikut adab pergaulan sehari-hari sesuai ajaran Contoh Adab terhadap Kedua Orang TuaTidak durhaka kepada kedua orang tuaPatuh kepada kedua orang tua dan selalu mendoakannyaBersyukur sudah diberi keluarga yang utuhMengucapkan kata-kata yang muliaTidak mengucap kata kasar seperti berdecak “ah”Meneruskan berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya sudah meninggal2. Contoh Adab terhadap GuruMengamalkan ilmu yang telah diajarkanMenjaga perilaku ketika di sekolahTidak berkata kasar kepada guru3. Contoh Adab dalam BermasyarakatMengucapkan salam ketika bertemuMemenuhi undangan, jika diundang dalam sebuah acaraMemberikan nasihat ketika dimintaMenjenguk tetangga ketika sakitMengantarkan jenazah tetangga sampai ke kuburLemah lembut dan kasih sayangTidak ikut campur terhadap urusan orang lain4. Contoh Adab Pergaulan Sesama TemanMencintai teman karena AllahSaling menyapa atau menegur ketika bertemuMengajak teman ke arah kebaikanMemberi senyuman ketika bertemuMenolong teman yang kesusahanBersama-sama berjuang bersama mencari ilmu
Tidak diragukan lagi bahwa belajar dan menuntut ilmu agama telah dijelaskan keutamaannya dalam nash yang terbilang dalam al-Quran maupun al-Hadist, diantaranya Allah berfirman يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. al-Mujadilah 11. Disebutkan pula dalam hadist bahwa Rasul sallallahu alaihi wa sallam bersabda وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” HR. Abu Dawud Ibnu Majah dari hadis Abu Darda’ radhiyallahu anhu. Seorang penuntut ilmu jika senantiasa menghadirkan keutamaan yang disebutkan dalam dalil-dalil tersebut. Karena sangatlah penting agar ia bisa tetap memberikan suntikan semangat untuk belajar. Dan menuntut ilmu itu memiliki adab-adab yang harus diperhatikan. Ketika seorang pembelajar memegang adab-adab ini, maka dampaknya akan memberikan nilai positif ketika berinteraksi dengan guru dan teman sejawatnya dalam belajar. Ia juga bisa memperingkas jalan dia dalam belajar. Bisa mengetahui mana yang lebih penting dari perkara-perkara penting dalam belajar yang harus diambil terlebih dahulu. Bahkan adab belajar bisa menuntun dia kepada jalan yang akan menjadikannya ahli ilmu yang kokoh dalam keilmuan. Nasehat ulama tentang pentingnya beradab sebelum berilmu Sebagaimana hal tersebut telah dicontohkan oleh para kibar ulama. Sebagian adab-adab belajar bisa didapat dengan membaca buku-buku yang ditulis dalam tema ini, atau juga bisa diambil dengan berinteraksi langsung dengan para ulama. Berikut diantara statement ulama yang menekankan pentingnya beradab dahulu sebelum menuntut ilmu Berkata Ibnu Wahb ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه “Apa yang kami nukilkan dari adabnya Imam Malik jumlahnya lebih banyak daripada apa yang kami pelajari dari ilmunya”. Lihat Siyar al-A’lam al-Nubala juz8 hal113 Kebutuhan seorang penuntut ilmu akan adab sebelum memulai menuntut ilmu adalah perkara yang sangat penting, oleh karenanya begitu banyak wasiat para ulama dalam masalah ini. Salah satu contohnya, wasiat Imam Malik ketika mengarahkan seorang pemuda quroys dalam belajar, beliau mengatakan يا ابن أخي، تعلم الاب قبل أن تتعلم العلم “Wahai putra saudaraku, belajarlah adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. Lihat al-Hilyah oleh Abu Nu’aim juz6 hal330 Yusuf bin Husain juga berkata بالأدب تفهم العلم “Dengan adab anda akan memahami ilmu”. Lihat Iqtidhou al-Ilmi al-Amal oleh al-Khatib al-Baghdady hal170. Begitupula Abu Abdillah al-Balkhy mengatakan أدب العلم أكثر من العلم “Adab berilmu lebih banyak dari ilmu itu sendiri”. Lihat al-Aadabu al-Syariyyah juz3 hal552 Juga lihatlah Imam Laits ibnu Sa’ad ketika beliau mengawasi penuntut ilmu hadist, kemudian beliau melihat ada sesuatu yang kurang pas dalam sikap mereka, kemudian beliau menegur ما هذا؟ أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم “Apa ini? Kebutuhan kalian terhadap sedikit adab itu lebih mendesak daripada kebutuhan kalian pada ilmu yang banyak”. Lihat Syarafu Ashabi al-Hadist oleh al-Khatib al-Baghdady no283. Dari beberapa kutipan di atas, kita kemudian menjadi tahu urgensi mempelajari adab sebelum menuntut ilmu, apalah arti seseorang memiliki ilmu yang banyak dan luas namun tidak beradab, justru dampak negatifnya akan lebih besar daripada dampak positif yang akan dibawa. Adab – adab seorang penuntut ilmu Secara singkat, berikut beberapa adab-adab menuntut ilmu yang perlu untuk diketahui oleh para pembelajar ilmu syari sebagaimana disampaikan menurut syaikh al-Munajjid 1. Kesabaran. Menuntut ilmu adalah termasuk perkara mulia dan tinggi dalam sudut pandang agama, dan perkara yang mulia tidaklah bisa dituai melainkan harus bersusah payah dan berlelah-lelah, dan ini semua butuh kesabaran. 2. Mengikhlaskan amalan. Maksudnya adalah menjadikan upaya menuntut ilmu itu sebagai bentuk mencari keridoan Allah, harus ikhlas, jauh dari riya dan keinginan untuk agar bisa tampil dan merasa tinggi di hadapan orang lain, benar-benar tujuannya untuk mengangkat kebodohan dalam diri dan pada orang lain. 3. Mengamalkan ilmu yang didapat. Ketahuilah, bahwa mengamalkan ilmu itu adalah tanda bahwa ilmu tersebut berbuah, barangsiapa yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya, sejatinya ia telah menyerupai kaum yahudi dalam hal ini. 4. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Wajibnya bagi penuntut ilmu untuk menghiasi dirinya dengan perasaan diawasi oleh Allah muroqobatullah baik dalam keadaan sembunyi maupun terang, berjalan menuju Allah dengan didampingi perasaan takut khouf dan harap roja, selalu memenuhi hati dengan rasa cinta pada Allah ta’ala al-mahabbah. 5. Memanfaatkan waktu dengan baik. Yaitu bersegera memanfaatkan waktu muda dan umur dengan sebaik mungkin untuk menggali ilmu, jangan terlalu banyak ungkapan besok atau menunda-nunda amalan, jangan terlalu banyak harapan namun minim aksi, menit demi menit berlalu, hari, pekan, bulan dan seterusnya, jika tidak dimanfaatkan waktu itu dengan baik maka kita akan merugi. 6. Himbauan untuk tidak sibuk dengan khilaf para ulama. Sekali-kali janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan persilangan pendapat para ulama pada awal mulai belajar, atau menyibukkan dengan perselisihan di tengah manusia secara mutlak, karena hal tersebut akan membingungkan pikiran, juga jangan terlalu membaca terlalu banyak dari banyak sumber, tapi pilihlah kitab-kitab dasar yang sudah diarahkan oleh guru, dibaca dan dikuasai dengan baik sampai mutqin, dengan begitu akan lebih bisa menghemat waktu. 7. Memahami ilmu secara cermat dan itqan menguasai sempurna. Bersemangatlah memahami ilmu secara cermat dan mutqin, tentunya hal tersebut bisa diwujudkan ketika mempelajari ilmu dengan didampingi oleh syaikh atau guru yang berkompeten, dengan menghafal ilmu tersebut, senantiasa diulang-ulang secara periodik agar tidak mudah lupa dan lekang oleh waktu. 8. Menelaah kitab-kitab. Setelah kita menghafal bentuk ringkas dari setiap disiplin ilmu secara mutqin dan cermat, memahami makna dan syarahnya dengan baik dengan dibimbing oleh guru, barulah kita bisa berpindah kepada rujukan yang pembahasannya lebih luas, dengan menelaah secara kontinyu, memberikan komentar dan catatan pada perkara yang dianggap penting dan berfaidah, atau masalah-masalah yang detail, memberikan jawaban dan solusi dari masalah tersebut. 9. Memilih teman yang baik. Berupaya untuk memilih teman yang baik dalam menuntut ilmu, yang menyibukkan dirinya dengan ilmu dan bukan dunia, dia bisa membantumu untuk mewujudkan mimpimu, menolongmu untuk mengumpulkan faidah-faidah ilmiyah dalam belajar, menyemangatimu ketika engkau futur, meringankan bebanmu, yaitu teman yang bersemangat belajar, memiliki akhlak dan agama yang baik dan senantiasa tidak bosan memberikan nasehat. 10. Beradab di hadapan para guru. Ilmu itu tidak bisa diambil langsung begitu saja dari buku, namun wajib engkau ambil dengan arahan dan pengajaran dari guru yang berkompeten, agar engkau tidak terpeleset dalam kesalahan dan kekeliruan pemahaman, karena anda butuh dengan guru yang membimbing anda, maka wajib bagi anda untuk menjaga adab di hadapannya, dengan demikianlah anda akan sukses dan beruntung dalam belajar, mendapatkan ilmu yang mumpuni dan diberi taufik, muliakan guru anda, hormati dia dan bersikap lemah lembut padanya, demikian contoh yang diberikan oleh para ulama di masa lampau. Beberapa adab menuntut ilmu di atas diambil dari link website berikut Kesimpulan Dari paparan sederhana di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa menuntut ilmu agama haruslah didahului dengan mempelajari adab-adabnya. Hal ini sebagaimana arahan dari para ulama yang telah kami kutipkan, karena apalah arti seseorang memiliki ilmu yang banyak namun kurang atau tidak memiliki adab. Tentu hasilnya tidak menjadi sesuatu yang baik. Semoga Allah memberikan taufik pada kita semua. Disusun oleh Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله Selasa, 27 Syawwal 1442 H/ 8 Juni 2021 M Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab LIPIA Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, حفظه الله klik disini
0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes344 views4 pagesAdab Sebelum Ilmu Dan Ilmu Sebelum AmalOriginal TitleAdab Sebelum Ilmu dan Ilmu Sebelum AmalJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Home Tausyiah Sabtu, 06 Februari 2021 - 2227 WIBloading... Ustaz Budi Ashari, dai yang juga pakar sejarah Islam. Foto/Ist A A A Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Abu Daud, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Islam sangat menekankan akhlak karena baginda Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi uswatun hasanah teladan yang baik. Bahkan Nabi menegaskan dalam sabdanya, bahwa yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak mulia. Baca Juga Begitu berharganya akhlak dan adab sehingga umat Islam diperintahkan untuk memuliakan akhlak dan adab. Akhlak mulia merupakan cerminan keimanan yang juga Pakar Sejarah Islam Ustaz Budi Ashari menerangkan, akhlak dan keteladanan kepada seorang guru adalah sesuatu yang bukan merupakan pilihan, tetapi adalah keharusan. Seorang guru adalah seorang yang menjadi teladan bagi siapapun anak didiknya."Keteladanan itu sesuatu yang dipelajari oleh murid sebelum dia mempelajari ilmunya. Adab akhlak itu sangat luar biasa," kata Ustaz Budi Ashari dalam satu Mubarok berkataتعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين"Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun."Masya Allah. Beliau dari para gurunya belajar keteladanan mereka, meniru mereka, mempelajari akhlak mereka 30 tahun lamanya belajar itu. Dan belajar ilmu hanya 20 tahun, lebih Ibnu Jauzi dalam Shifatush Shafwah juga menyampaikan pernyataan Abdullah bin Mubarak yang lainnya bahwa adab itu dua pertiga ilmu. Kalau seseorang ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, ilmu yang banyak, dan melimpah, maka berlajarlah adab sebelum ilmu."Maka berdirilah untuk guru berikan kepada mereka kemuliaan karena nyaris saja guru menjadi seperti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam," ajak Ustaz fiikum, Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan pahala balasan terbaik atas jasa-jasa para guru. Baca Juga Wallahu A'lamrhs menuntut ilmu adab akhlak akhlak islam ustaz budi ashari Artikel Terkini More 27 menit yang lalu 28 menit yang lalu 48 menit yang lalu 55 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Adab Sebelum IlmuOleh Suharni"Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat"Al Hadits Hadits di atas memberikan motivasi pada kita bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban, bahkan keniscayaan, selama hayat di kandung badan. Tidak ada kata terlambat dalam mempelajari suatu ilmu. Ilmu laksana lentera yang akan menerangi setiap langkah kita dalam menjalani kehidupan. Tanpa ilmu, kita bagaikan seorang buta yang melangkah tak tahu arah dan mudah tersesat, begitu pesan orang bijak. Dengan ilmu seseorang akan dapat meraih bahagia baik di dunia maupun di akhirat sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "barang siapa ingin bahagia di dunia maka dengan ilmu, barang siapa ingin bahagia di akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa ingin bahaga di dunia dan di akhirat maka juga dengan ilmu" Al Hadits. Akan tetapi, ada yang lebih penting dari ilmu yaitu adab atau etika. Berinteraksi dengan orang lain adalah sebuah keniscayaan bagi setiap manusia. Namun, ada tata cara dalam berinteraksi dengan orang lain terlebih dalam hal menuntut ilmu. Amat penting untuk mempelajari adab sebelum mempelajari sebuah ilmu. Dari artikel disebutkan beberapa adab dalam menuntut ilmu, berikut karena Allah SWT. Hal utama yang harus disiapkan dalam menuntut ilmu adalah niat. Menuntut ilmu hendaknya diniatkan karena Allah SWT agar ilmu yang didapatkan bermanfaat dan mendapat keberkahan dari berdoaDoa adalah senjata bagi seorang muslim. Mengawali aktifitas apapun termasuk menuntut ilmu hendaknya diawali dengan berdoa agar diberikan kemudahan dalam menyerap ilmu dan Dalam menuntut ilmu hendaknya bersungguh-sungguh dan selalu antusias. Rasulullah SAW bersabda "man jadda wajada" yang artinya "barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkan apa yang di harapkannya".Menjauhi maksiat. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya ilmu tidak akan dapat menembus hati yang tertutup dengan maksiat. Maksiat akan membuat otak sulit rendah hati. Seperti padi semakin berisi semakin menunduk, seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki sifat rendah hati, selalu merasa fakir dengan ilmu. Banyak kisah orang yang dihinakan oleh Allah karena kesombongan dengan ilmu yang penjelasan. Salah satu adab dalam menuntut ilmu adalah memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh seorang guru agar memperoleh pemahaman yang benar terhadap suatu menyimak. Berusaha memahami sebuah ilmu salah satunya dengan cara diam menyimak sehingga penjelasan yang di dengarnya tidak ada yang Adab selanjutnya dalam menuntut ilmu adalah menghafalkannya karena manusia adalah makhluq yang mudah lupa, maka menuliskan dan berusaha untuk menghafal ilmu yang sudah diperoleh. Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan bahwa "ikatlah lmu itu dengan cara menuliskannya"Mengamalkan. Ilmu tidak akan bermanfaat apabila dibiarkan saja mengendap di dalam diri seseorang, maka mengamalkannya menjadi kewajiban seorang muslim. Mengajarkan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda "sampaikanlah ilmumu walau hanya satu ayat". Hadits tersebut mengandung makna bahwa kita mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ilmu kepada orang ingin agar ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat, bukan?. Maka tiada kata berhenti untuk sebuah ilmu dengan mendahulukan memperhatikan adab-adabnya. Lihat Sosbud Selengkapnya